Gue dan Cokelat

0 comments
Semua orang suka cokelat. Ada yang nggak? Memang ada beberapa yang ga suka-suka banget, tapi ga bisa dimasukkan ke dalam kategori pembenci cokelat. Tidak seperti delicacy lainnya seperti keju yang digemari sebagian orang dan dihindari sebagian lainnya (Gue pernah bawa beberapa donut keju ke Medan dan mereka membuang kejunya sebelum memakan donutnya. LOL.).

Gue termasuk orang yang gila makan cokelat, dalam artian secara berkala gue akan membeli cokelat sebanyak-banyak dan memakannya like there’s no tomorrow. Gue akan mengeluarkan berpuluh ribu rupiah untuk beberapa Toblerone atau Ritter Sport dan menghabiskannya lebih cepat dari jam kerja seorang kuli bangunan untuk memperoleh uang yang sama. Kalau dipikir-pikir, gue keterlaluan juga.

Kalau uang di dalam dompet dalam kondisi setengah mengenaskan, maka nafsu makan cokelat cukup dipuaskan dengan sekotak Chocolatos yang bertahan paling lama 3 hari. Silverqueen dan beberapa produk Cadbury juga pilihan yang bijak di tengah kondisi cekak.

Gue juga akan melahap cokelat dalam produk olahan lain seperti brownies (yang rum raisin dari Kartika Sari, hell yea!). Waktu SMA gue punya temen namanya Tyas. Brownies buatan dia salah satu paling enak yang pernah gue cicipin. Mungkin di antara pembuat brownies amatir (baca: tidak bermerek), brownies dia yang paling ajib. Good news for me, akhirnya bulan ini ada reuni kelas gue dulu. Tyas, bawa brownies ya!

Dulu ada orang ngomong ke gue, kalau bicara cokelat harus bicara Hershey’s. Walau gue pikir ga segitunya juga, tapi memang rasanya Hershey’s memang enak. Biarpun begitu, gue agak males untuk membeli Hershey’s di jaringan ritel ibukota. Sama malesnya untuk membeli cokelat-cokelat mahal di gerai-gerai yang khusus menjual cokelat. Tunggu saudara datang dari luar negeri sajalah.

Begitulah kira-kira sekelumit cerita gue tentang cokelat. O iya, jauhi cokelat-cokelat macam cap ayam jago dan sejenisnya karena itu bahkan bukan cokelat. Hanya mirip-mirip cokelat. Kira-kira seperti masturbasi lidah lah.

Note: 9 bungkus Chocolatos dihabiskan dalam proses pembuatan tulisan ini.

*Pangeran Siahaan, pemakan (bukan penikmat) cokelat

Cokelat-cokelat Kehidupan

0 comments
Cokelat. Cokelat. Cokelat. Nah, i am definetely not a big fan. Cenderung nggak suka malah. Gw tipe orang yang bakal minta es krim banana split gw dituker jadi vanila-stroberi-vanila instead of cokelat-vanila-stroberi. Gw nggak doyan sama sekali sama om Black Jack di J.Co. Gw nggak bakal marah-marah kalo bokap beli cokelat terus nggak bagi-bagi (FYI, bokap gw adalah tipe orang yang punya schedule rutin untuk beli cokelat). Gw juga lebih doyan susu putih dibanding susu cokelat. Gw nggak bakal gilaaa kalo ada orang yang bagi-bagi cokelat gratis...yang mahal sekalipun.
Even so, yang namanya hidup emang nggak bisa lepas totally dari yang namanya cokelat. Kalo minum es alpukat di kampus, gw pasti minta dilebihin susu kental manis cokelatnya (walaupun kadang gw suka enek sendiri sih). Gw juga penikmat white chocolate karna rasanya nggak 'cokelat', know what i mean? Satu lagi hal yang pasti, gw bakal tersenyum lebar kalo pas Valentines Day dikasih cokelat.

Cokelat juga bukan cuman makanan aja. Cokelat tuh kan warna yah bok?! Makanan cokelat aja di ambil dari warnanya yang cokelat (walaupun skrg ada white chocolate yang baru gw discover ternyata terbuat dari 'chocolate butter' entah gimana maksudnya)

So anyways, ini lah beberapa 'cokelat' yang ada di hidup gw:

cokelat, for my heart: 2 Minggu lalu gue jalan berdua sama temen gw dan kita mampir ke supermarket. Pas lagi lewat lorong cokelat2 dan permen, dia nanya ke gw cokelat apa yang enak. Gw tunjukin satu merek cokelat yang gue lumayan cocok, yang akhirnya dibeli sama temen gw. Pas keluar dari supermarketnya, tau-tau dia nyodorin cokelatnya ke gw. "Buat lo," kata dia. Gw agak kaget karna bener-bener nggak expecting dan somehow gw merasakan rasa haru yang lumayan diluar dari biasanya. Sampe speechless dan salting padahal temenan udah lamaaaa gila dan dia cewe pula. Hihi. (loh kok mulai geli ya?!) Chocolate is sweet, and giving chocolate is a sweet thing to do. Siapa coba yang ngga mau?

cokelat, i wear:Gue suka warna cokelat dalam hal tas dan sepatu atau aksesoris lainnya. Somehow warna cokelat berkesan natural dan nggak norak. Classic tapi oke. Jaman skarang juga banyak tuh tas-tas berbahan kulit yang warnanya cokelat (muda dan tua) yang bikin kesan 'vintage', sehingga 'digandrungi' para wanita. Buat cowok, gw perhatiin mayoritas cowo tuh pasti punya celana berwarna cokelat, entah itu cokelat muda atau tua, celana pendek yang selutut ato celana panjang. Yang pasti gw yakin hampir semua cowo yang gw kenal pernah gw liat memakai celana cokelat (biasanya cokelat muda). Yes, warna cokelat itu udah kaya 'must have' item dalam pakaian sehari-hari. Coba cek ke lemari lo sekarang, gw yakin lo pasti punya 1 item (baju/sepatu/celana/baju dalem) yang warnanya cokelat.

cokelat, a nature stand-out:Seperti yang gw bilang sebelomnya, warna cokelat itu natural. Somehow di mata gue warna cokelat adalah warna yang 'membumi' ato 'bumi banget' ato kalo elo G4UL kaya yang kemaren gue bilang, "bumi bwangetsszzz". Gyahahah. Ok serius. Menurut gw cokelat = nature. Warna alam yang stand out banget, walaupun orang lebih sering mengagung-agungkan hijau sebagai warna bumi. Oke, pohon warnanya hijau. Oke, rata-rata daun warnanya hijau, tapi sebenernya walaupun berkesan 'gersang' atau 'kotor', warna cokelatlah yang mendasari semua kehijauan bumi kita. Bahkan bukan cuman si hijau, tapi warna-warna indah lainnya. Bukan begitu? So maybe cokelat should be the new GREEN!

cokelat, i produce:What? Sejak kapan gw produksi cokelat? Haha. Tenang, bukan cuman gw kok! elo-elo pada juga produksi cokelat. Tubuh manusia itu sebenernya pabrik cokelat. Just not the right chocolatet to eat. Setiap hari (bagi yang pencernaannya bermasalah mungkin 2 atau 3 hari sekali), manusia pasti bakal merasakan gejolak asoyy di perutnya yang ujung-ujungnya bakal bikin dia lari-lari ke WC dan mengeluarkan cokelat-cokelat alami dari pencernaannya. Kadang bentuknya keras kaya batu, kadang lembek kayak lemper, kadang juga completely WATER! Yang satu ini namanya 'hot chocolate i produce'! hiahaha. Kenapa gw makin jorok?!! Maaf. Maaf. Tapi bener kan? Fakta kan? Setuju dong?!

Inti dari post gw ini adalah:

yang namanya hidup manusia itu emang nggak akan jauh-jauh dari si 'cokelat'.

So it's okay if you don't like chocolate.
Masih ada warna cokelat yang bisa lo pake.
Atau warna cokelat yang bisa lo nikmati di alam bebas.
Kalo masih nggak suka juga, silahkan nikmati cokelat produksi sendiri.

Cokelat is everywhere! oh yeah!

C.A. yang nggak suka cokelat.